Total Tayangan Laman

Senin, 16 Agustus 2010

CIRI-CIRI ORANG YANG BERTAKWA

CIRI-CIRI ORANG YANG BERTAKWA
Takwa adalah sebaik-baiknya bekal bagi kehidupan orang mu’min baik dalam mengarungi kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana terdapat dalam firman Allah swt. surat Al Baqarah ayat 197,“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” Dengan bertakwa insya Allah kita akan memperoleh kebahagiaan bukan hanya kebahagiaan hidup di dunia melainkan juga di akhirat nanti. Meskipun kata takwa berasal dari terminologi yang dipakai agama Islam, tetapi khusus di Indonesia ini kata takwa digunakan juga sebagai terminologi oleh umat non muslim, meskipun kalau ditanya apa itu takwa mungkin mereka menggunakan kata-kata ini sebatas ucapan saja tanpa memahami makna yang sebenarnya. Tetapi sebagai umat Islam, tentunya memahami benar apa yang dimaksud dengan takwa. Takwa mengandung arti yang bervariasi di kalangan ulama. Namun ada beberapa ulama fiqh mendefinisikan takwa adalah menjalankan semua perintah Allah swt. dan menjauhi semua larangan-larangan Allah swt. Jadi takwa di sini ada indikasi bahwa dia takut di dalam perilakunya ini menerjang batas-batas yang sudah digariskan oleh Allah swt., sehingga kita tidak sampai melakukan suatu perbuatan yang melampaui batas-batas yang sudah ditetapkan oleh Allah swt. Seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah swt dari adzab-Nya, hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang di perintahkan-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya.
Pada hakekatnya tidak ada yang benar-benar diharapkan untuk ketenangan lahir dan bathin selain takwa kepada Allah. Hanya takwa kepada-Nyalah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari adzab-Nya di dunia maupun di akhirat nanti, karena takwa jualah seseorang akan mewarisi Surga Allah swt. Imam Ahmad bin Hambal ra. berkata, “Takwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut (kepada Dzat yang engkau takuti). Takut kepada Allah, ridha dengan ketentuan-Nya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti.” Takwa merupakan sebaik-baiknya pakaian orang mu’min, seperti dalam QS. Al-A’raaf ayat 26 Allah swt. berfirman,”Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang terbaik”. Pakaian penutup aurat atau al-libas merupakan kebutuhan yang harus ada dan pakaian indah atau ar-risy, maka al-libas sebagai tambahan dan penyempurna. Allah swt. menunjukkan kepada manusia pakaian baik yaitu yang menutupi aurat lahir maupun batin, sekaligus memperindahnya. Sedangkan sebaik-baiknya pakaian adalah pakaian at-takwa. Pakaian takwa itu adalah al-hayaa’ (malu). Sedangkan menurut Ibnu Abbas pakaian takwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan segala sesuatu yang Allah swt. ajarkan dan tunjukan.
Sahabat Rasulullah saw. sangat memperhatikan taqwa, berusaha keras mewujudkan dan mempertahankannya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatab ra. pernah bertanya kepada Ubai bin Ka’ab, apakah yang dimaksud dengan takwa? Ubai bin Ka’ab lalu menjawab dengan berbalik mengajukan pertanyaan,”Apakah engkau pernah melintasi jalan yang berduri?” Umar bin Khattab menjawab, “Pernah,” Ubai bin Ka’ab bertanya lagi,“Apa yang engkau perbuat?” Umar bin Khattab menjawab,“Aku berusaha keras, berjuang sekuat tenaga dan berhati-hati melintasinya.” Ubai bin Ka’ab berkata,“Itulah takwa”. Takwa itu peka dan lembut di hati nurani, serta selalu merasa takut atau waspada karena banyak duri (rintangan) dalam melalui jalan takwa atau jalan kehidupan, seperti kesenangan, ketakutan, kekhawatiran, kesombongan atau syahwat. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim bahwa seorang muslim itu saudara bagi muslimnya lainnya. Ia tidak boleh membiarkanya, merendahkannya, menganiayanya, dan menghinanya. Bila seorang muslim menghina muslim lainnya merupakan suatu kejahatan. Setiap muslim bagi muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan nama baiknya. Takwa itu di sini (Rasulullah saw. mengulang perkataannya sebanyak tiga kali sambil menunjuk dada beliau).
Takwa bukan hanya ucapan saja, melainkan harus ditunjukan oleh lisan, hati dan perbuatan. Takwa merupakan ketaatan sepenuhnya kepada Allah swt dengan mengikuti setiap hukum dan aturan-Nya yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Seperti yang diungkapkan dalam beberapa ayat dari Al Quran diantaranya QS. An Nuur ayat 52,”Siapa saja yang menaati Allah dan rasul-Nya, takut kepada Allah, serta bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. Berikutnya dalam QS. Asy Syu’ara ayat 107-108,”Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian. Karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah aku.” Dalam ayat lain diungkapkan,”Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian maka ambillah; apa saja yang dilarangnya atas kalian maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kalian kepada Allah.” (QS. Al Hasyr: 7)
Allah swt mewasiatkan takwa kepada umat Nabi Muhammad saw. dan juga kepada umat-umat terdahulu. Rasulullah saw. pernah berwasiat tentang takwa seperti yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah saw. shalat subuh bersama kami. Setelah shalat beliau memberi nasihat yang dapat meneteskan air mata dan menggetarkan hati yang mendengarnya. Berkatalah salah seorang sahabat,“Ya Rasulullah, sepertinya ini nasihat terakhir, oleh karena itu nasihatilah kami”. Rasulullah saw. bersabda lagi,“Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa di antara kamu hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah sunnah ini erat-erat. Waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Ahmad).
Orang bertakwa itu pasti akan selalu mengendalikan diri dalam semua perilakunya, selalu bertanya setiap kali akan melangkah, apakah ini sesuai dengan ajaran-ajaran, sesuai dengan perintah-perintah, atau tidak melanggar larangan-larangan Allah swt. Jadi selalu ada kendali-kendali pada dirinya, atau ada yang disebut dengan internal control, yaitu pengendalian yang bersifat internal di dalam dirinya bagi orang-orang yang bertakwa. Bahkan Al Quran sendiri menjelaskan dalam surat kedua Al Baqarah, bahwa kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada orang yang meragukan kebenaran Al Quran. Orang-orang yang tidak beriman pun dalam hatinya mengakui bahwa Al Quran itu kitab yang tidak perlu diragukan lagi kesahihannya. Banyak bukti ilmiah yang sudah membuktikan bahwa Al Quran itu benar-benar kitab yang sangat luar biasa, sumber dari segala macam ilmu, meskipun pada umumnya kita menggunakan Al Quran hanya untuk membacanya saja, tetap itu lebih baik dari pada tidak membaca sama sekali karena membaca Al Quran itu sudah menjadi kebaikan dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Artinya, kalau kita benar-benar ingin menjadi orang yang bertakwa gunakanlah Al Quran sebagai rujukannya. Timbul pertanyaan siapakah orang yang taqwa itu (muuttaqin)? Apakah ciri-cirinya seorang muttaqin?
Dalam perspektif pendidikan takwa merupakan sebuah kata yang penting dan mengandung makna tersendiri. Di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Sedangkan pada ayat 2 menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. Kemudian di dalam sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional, adalah berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam sistem pendidikan nasional khusus dalam pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Beriman dan bertakwa ini harus menjadi kompetensi kepribadian tenaga pengajar, guru dan dosen, di samping kompetensi kepribadian lainnya yaitu berakhlak mulia, arif bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, dan mengembangkan diri secara mandiri. Begitu pula dalam salah satu prinsip profesionalitas tenaga pengajar, diungkapkan bahwa salah satu prinsipnya adalah memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Akhlak mulia itu seperti bergaul dengan baik dengan manusia, tanpa melihat agama, suku, bangsa, dan ras. Hal ini sejalan dengan salah satu pilar pendidikan dari UNESCO, yaitu Learning live together, kita harus mampu hidup bersama.
Ciri-ciri Orang yang Takwa (Muttaqin)
Dalam surat Al Baqarah ayat 3-4 dinyatakan bahwa orang-orang yang bertakwa (muttaqin) memiliki beberapa ciri atau kriteria yang satu sama lainnya berkaitan, yaitu Alladziina yu’minuuna bil ghaibi wayuqiimuunashsholaata wamimmaa rozaknaa hum yunfikuun. Artinya, orang bertakwa itu beriman kepada yang ghaib, menegakkan shalat, menafkahkan harta untuk tegaknya agama Islam, mempercayai dan mengamalkan kitab dari Allah swt, keyakinan tentang kehidupan di akhirat.
1. Percaya kepada yang ghaib
Beriman kepada hal-hal yang ghaib merupakan kriteria pertama orang yang bertakwa (muttaqin). Hal-hal yang ghaib inilah yang bisa mengendalikan diri kita semua. Sesuatu yang ghaib ini misalnya malaikat. Kita yakin bahwa setiap saat, setiap detik itu dikontrol oleh dua malaikat Rokib dan Atib. Kedua malaikat ini yang selalu mencatat semua perbuatan kita tidak ada yang terlewat sedikitpun sebagaimana digambarkan di dalam Al Quran yaitu tidak ada sesuatu yang dilewatkan. Malaikat Rokib yang mencatat amal kebaikan dan malaikat Atid yang mencatat perbuatan salah yang dilakukan manusia. Orang yang mempunyai keyakinan seperti itu maka kalau dia mau melakukan sesuatu yang salah akan takut dicatat, sehingga dia tidak berani melakukan hal-hal yang di luar dari ketentuan-ketentuan yang sudah Allah swt berikan. Bayangkan kalau punya keimanan yang lain karena hidup tidak beriman pada yang ghaib (yuminuuna bilghaibi), maka manusia merasa tidak peduli karena tidak ada orang yang melihat, tetapi kita yakin bahwa ada yang ghaib di belakang kita diantaranya ada Allah swt. dan malaikat. Jadi orang yang bertakwa itu yakin bahwa yang ghaib itu ada.
Selain malaikat, hal-hal yang ghaib lainnya diantaranya ada jin dan syetan. Orang yang bertakwa dalam upaya mencintai Allah swt. selalu mendapatkan halangan dari syetan. Oleh karena itu perlu mewaspadai tipu daya syetan tersebut. Tipu daya syetan antara lain menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran, mengarahkan manusia agar berbuat bid’ah, memperdayai manusia agar melakukan dosa-dosa besar, jika masih tidak berhasil diperdayai agar melakukan dosa kecil tetapi sering sehingga lama-kelamaan akan menjadi dosa besar/banyak, Godaan lainnya dengan cara menyibukkan manusia melakukan perbuatan mubah atau membuang-buang waktu dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat. Jika tidak mampu juga maka syetan menimbulkan berbagai macam cobaan silih berganti. Untuk itu perlu direnungkan firman Allah swt. dalam QS. Al Baqarah ayat 208,”Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian semua ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh nyata bagi kalian.”
Sesuatu yang ghaib lainnya adalah neraka dan surga. Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang melanggar perintah Allah swt. dan bagi orang-orang yang menjalankan segala larangan-Nya. Oleh karena itu, setiap orang pasti tidak ingin masuk ke neraka. Sebaliknya, setiap orang tentu sangat merindukan surga di akhir hayatnya nanti. Namun ada orang yang justeru dirindukan oleh surga, yaitu pertama, orang yang suka membaca Al Quran. Orang yang membaca Al Quran selain mendapatkan pahala, akan mendapatkan ilmu pengetahuan karena Al Quran itu sumber ilmu pengetahuan. Di dalam Al Quran kata ‘ilm dan tasrifnya ada 784. Artinya betapa Al Quran sangat mempromosikan kata ‘ilm baik yang berarti sains maupun knowledge. Di dalam Al Quran juga terdapat beberapa kalimat yang menantang kita untuk menggali sains dan teknologi yang jumlahnya mencapai 750 ayat. Dengan memiliki pengetahuan, maka akan menjadikan orang berpikir dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pahala membaca Al Quran bukan per kata atau per ayat melainkan sebanyak huruf yang dibaca. Kedua, memberikan makan kepada yang kelaparan (fakir miskin). Orang tersebut pantas dirindukan surga karena sudah mengerjakan perintah Allah swt. untuk memberi makan, mengasihi, dan menyantuni orang miskin. Ketiga, orang yang menunaikan ibadah shaum di bulan Ramadhan yang tujuan akhirnya adalah menjadi orang yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S Al Baqarah ayat 183,”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Imam Al Ghazali mengatakan bahwa dengan adanya ketakwaan pada diri setiap muslim akan menimbulkan rasa takut/segan terhadap Allah swt. Setiap muslim akan membersihkan hati dan perbuatannya dari segala dosa. Keempat, orang yang pandai menjaga lidah dari membicarakan atau menggunjing/mengumpat orang (ghibah) atau ucapan-ucapan yang menimbulkan dosa atau maksiat, sehingga akan menimbulkan penyesalan, keburukan, dan kerugian, baik bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Tidak jarang seseorang mengeluarkan ucapannya tanpa dipikirkan atau dipertimbangkan baik buruk sebelumnya, sehingga merugikan bagi diri sendiri dan menyakitkan bagi orang lain. Untuk itu lidah harus dijaga dengan syar’i, sehingga dapat dikendalikan dengan melahirkan ucapan-ucapan yang baik dan bermanfaat. Seperti dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw. bersabda bahwa hendaknya kita berbicara yang baik/benar, dan jika tidak bisa berkata baik, sebaiknya diam.
1. Mendirikan shalat
Kriteria kedua orang yang bertakwa adalah wayukiimuunassholaata, dia mendirikan shalat. Jadi kita bertakwa itu harus benar-benar melakukan shalat sekurang-kurangnya shalat yang diwajibkan kepada kita yang lima waktu itu. Ibadah shalat merupakan perintah dari Allah swt. yang langsung diberikan kepada Rasulullah saw. Perintah ini terjadi ketika peristiwa Isra Mi’raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidrathul Muntaha. Shalat bermula dari mengingat sebagai hamba-Nya dan merasakan kebesaran Allah swt. Firman Allah,”Tegakan shalat untuk mengingat-Ku.” (Q.S. Thaaha:14). Sebagai hamba-Nya yang lemah (dhaif) kita menghadap-Nya penuh dengan rasa cinta, karena Dia telah memberikan rahmat dan nikmat yang tidak terbatas. Banyak nilai-nilai yang dapat dipetik dari mendirikan shalat, seperti cerita dari Abudzar bahwa Rasulullah saw. pada suatu waktu keluar rumah pada musim hujan yang saat itu daun-daun sedang rontok berguguran. Beliau lalu berkata kepada Abudzar,”Sesungguhnya jika seorang hamba muslim mengerjakan shalat dengan ikhlas, maka rontoklah dosa-dosanya, seperti rontoknya daun-daun ini dari pohon”. (HR. Ahmad). Dengan mendirikan shalat dapat membersihkan diri baik lahir maupun bathin, Rasulullah saw. bersabda,”Perumpamaan shalat lima waktu seperti sungai mengalir yang deras airnya di depan rumah salah satu dari kamu. Dia mandi di situ setiap hari lima kali.” (HR. Muslim). Beliau menjelaskan bahwa shalat lima waktu dapat menyucikan jiwa, membersihkan hati, membimbing pada kesalehan, mencegah maksiat, dan membersihkan diri dari kemungkaran. Sebagaimana sungai yang airnya melimpah membersihkan orang yang mandi di situ lima kali sehari. Hanya saja, sebagian manusia membiarkan dirinya kotor tidak mau membersihkannya. Demikianlah Islam telah menuntun setiap muslim untuk membersihkan jiwa (tazqiyatun nafs) dan ruhnya. Selain itu juga harus mengisi dan menghidupkan jiwa dan ruhnya itu paling sedikit lima kali sehari semalam dengan mendirikan shalat wajib disertai dengan shalat-shalat sunnat, seperti shalat tahajjud, shalat witir, shalat dhuha, dan sebagainya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam QS surat Thaaha ayat 14,”Tegakan shalat untuk mengingat Aku.”
1. Menafkahkan rezeki kepada orang yang membutuhkan untuk menegakkan agama Allah swt.
Kriteria ketiga yaitu wamimmaa rozaknaa hum yuukinuun, menafkahkan sebagian rizki kita digunakan pada jalan-jalan yang diridhoi dan dianjurkan oleh Allah swt. Rezeki ini perlu dikeluarkan atau dinafkahkan karena di dalam rezeki (terutama yang kaya raya) yang diterima terdapat hak orang lain seperti fakir miskin. Rezeki itu sesungguhnya milik Allah swt. Sedangkan manusia hanya dititipi untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan dirinya dan orang lain. Orang-orang yang menafkahkan atau mengeluarkan hartanya di jalan Allah swt. serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Alloh swt. melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah swt. Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 262).
Dengan ketakwaan yang dimiliki kita melaksanakan perintah-Nya untuk membantu, menyantuni, dan memberikan kasih sayang. Orang yang perlu disantuni, tidak boleh disakiti, atau dihinanya antara lain fakir miskin. Sebagaimana Allah swt. telah berfirman dalam QS. Al Mauun ayat 1-3,”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” Sedangkan dalam QS. Adh Dhuha ayat 9 – 10 Allah swt. berfirman,”Adapun terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya.” Oleh karena itu hendaknya kita mudah menafkahkan rejeki dan jangan kikir atau bakhil.
Rasulullah saw. pernah memberikan perumpamaan orang kikir dan orang demawan bagaikan dua orang yang memakai baju besi yang menutupi leher hingga dadanya. Orang dermawan tidak mendermakan harta miliknya, kecuali baju besinya itu makin membesar hingga menutupi sekujur tubuhnya hingga jari-jari tangan dan jejak langkah kakinya pun tidak terlihat lagi. Sementara orang yang kikir, makin tidak mau berderma, baju besinya makin menyempit hingga mencekiknya. Dengan kata lain, orang dermawan ketika memakai baju besi yang longgar akan terasa semakin longgar sehingga dengan mudah baju besi itu menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan, orang yang kikir tampak terbelenggu tangan sampai lehernya. Setiap kali hendak memakainya, baju besinya tercekal di lehernya. Semakin berusaha memakainya, baju besi itu semakin mencekiknya. Demikian pula orang yang dermawan, setiap kali berinfak, setiap kali itu juga dadanya menjadi lapang dan lega hatinya. Sebaliknya, orang yang kikir ketika diminta infak menjadi pelit, sehingga dadanya terasa sempit dan kedua tangannya terbelenggu. Artinya, harta kalau disedekahkan atau diinfakan sebenarnya bukan berkurang, tetapi akan terus bertambah. Sebaliknya harta orang kikir kalau tidak disedekahkan atau diinfakan sebenarnya bukan bertambah malahan semakin berkurang.
1. Mempercayai dan mengamalkan kitab yang datang dari Allah swt.
Kriteria berikutnya dari orang bertakwa itu adalah walladziina yu’minuuna bimaa ‘unjila ilaika, jadi orang yang bertakwa itu adalah orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah swt. Kitab Allah swt. bukan hanya Al Quran, Allah swt. pernah menurunkan kitab kepada manusia kepada rasul-rasul kita yang lain selain Al Quran. Ada kitab yang disebut Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as., ada kitab yang disebut dengan kitab Injil yang diturunkan kepada nabi Isa as., ada kitab yang disebut Zabur yang diturunkan kepada nabi Daud, tetapi semua kitab itu isinya sudah direvisi dan terhimpun semuanya di dalam Al Quran. Jadi kita yakin bahwa ada kitab-kitab sebelumnya tetapi semuanya aturan-aturan yang diberikan oleh Allah swt. Pada kitab-kitab sebelumnya sudah digabungkan semuanya di dalam Al Quran. Seperti kisah yang diungkapkan oleh sahabat Abu Dzar Al Ghiffari, bahwa ia berkata,”Wahai Rasulullah berilah nasihat kepada saya!” Rasulullah saw. bersabda,”Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah akar dari setiap urusan (aturan).” Abu Dzar berkata lagi,”Wahai Rasulullah tambahkan lagi nasihat untuk saya!” Rasulullah saw. pun bersabda lagi,”Teruslah membaca Al Quran karena Al Quran adalah Nur (cahaya) untuk (kehidupan) kamu di atas muka bumi dan bekal yang disimpan di langit (untuk hari akhirat).” (HR. Ibnu Hibban).
1. Percaya dan yakin pada hari akhir (hidup sesudah mati)
Kriteria selanjutnnya dari orang bertakwa itu adalah wabil aakhiroti hum yuukinuun, percaya pada hari akhir. Orang yang bertakwa itu yakin bahwa akan menghadapi kehidupan yang lain setelah kematian di dunia ini. Bagi orang yang bertakwa seperti ini, dia adalah orang yang memperoleh pertunjuk dan orang yang berbahagia. Sabda Rasulullah saw.,”Tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat itu kecuali seumpama sesuatu di jari tangan dimasukan ke lautan. Lihatlah seberapa sesuatu itu membawa kembali.” (HR. Muslim). Hadits tersebut menjelaskan hakekat orang yang sibuk mengurus dunia tetapi melupakan akhirat, padahal sesungguhnya dunia ini tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan akhirat. Untuk itu kewajiban orang mukmin untuk menggunakan akalnya agar tetap memperhatikan keduanya dunia dan akhirat secara proporsional. Sebagaimana doa yang sering kita ucapkan agar kita di dunia ini diberikan kebaikan, di akhirat diberikan kebaikan, begitu pula kebaikan pada keduanya di dunia dan di akhirat.
Dari kriteria-kriteria orang bertakwa (muttaqin) terebut, pertanyaannya apakah orang Islam sudah mampu menjadi muttaqin atau setidaknya berusaha menjadi muttaqin di dalam kehidupan sehari-harinya sehingga bermanfaat bagi dirinya dan orang lain? Islam mengajarkan kita suatu ajaran yang memang menjadi rahmat bagi seluruh alam, tetapi yang jadi persoalan apakah ajaran Islam sudahkah kita buktikan dan realisasikan di dalam kehidupan sehari-hari? Kita yakin Islamnya itu betul tetapi orang Islamnya itu yang jadi persoalan. Islamnya rahmatan lil ‘aalamiin, tetapi apakah kita sudah menjadi rahmat bagi alam semesta? Tidak seperti yang kita lihat sekarang ini berbagai fenomena, sebagian manusia membuat kerusakan pada alam bahkan pada masyarakat “apakah itu Islam?” Khususnya kita supaya bisa membuktikan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘aalamiin, satu hadits saja yang bisa kita buktikan itu, insya Allah kita sudah bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa Islam benar-benar rahmatan lil aalamiin. Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi manusia bukan yang bermudharat kepada manusia.
Banyak peristiwa yang kita amati dan kita ketahui ternyata sebagian orang Islam tidak memberikan manfaat malah memberi mudharat kepada manusia lain. Kalau kita bisa membuktikan bahwa sebaik-baik manusia adalah beriman kepada Allah swt, maka insya Allah Islam benar-benar menjadi rahmat bagi semesta alam, tidak sebaliknya kita memberi mudharat kepada orang lain. Upaya atau cara-cara apakah yang harus kita lakukan atau realisasikan agar bisa memberikan manfaat bagi manusia? Ini khusus para peserta didik (mahasiswa), para tenaga pendidik (dosen) dan civitas akademika supaya bisa memberi manfaat bagi manusia tentu kita harus belajar dengan sebaik-baiknya. Kita memegang sebuah prinsip sebagaimana digariskan oleh Rasulullah saw., bertakwalah kepada Allah swt. dimana aku bertobat, kalau terlanjur berbuat sesuatu yang jelek, maka segera ikuti dengan perbuatan yang baik, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik kepada semua manusia bukan orang Islam saja. Dalam kesempatan lain Rasulullah saw. bersabda,”Sesungguhnya, perumpamaan orang melakukan kesalahan lalu melakukan kebaikan, seperti orang yang dibelit baju besi yang sempit yang mencekik lehernya. Dia lalu melakukan kebaikan, lepaslah satu lingkaran baju besi yang membelitnya. Kalau melakukan kebaikan lagi, lepas lagi lingkaran yang lain, dan seterusnya sehingga baju besi jatuh ke tanah (dan ia terlepas dari belitan besi).” (HR. Ahmad). Dengan hadits tersebut, Beliau menjelaskan bahwa perbuatan salah itu membuat pelakunya merasakan hidupnya sempit, rezekinya sulit diraih, atau mendapatkan kesulitan dalam setiap urusannya. Kemudian ia melakukan kebaikan yang dapat menghapus kesalahannya, maka terbukalah dadanya (hatinya), lapanglah rezekinya, dan mudahlah urusannya.
Ada beberapa cara merasakan nilai takwa kepada Allah swt, antara lain mencintai Allah swt. (mahabbatullah). Ibnu Qayyim berkata bahwa mahabbah itu ibarat pohon (kecintaan) dalam hati. Buahnya adalah taat kepada-Nya. Daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya. Batangnya adalah ma’rifah kepada-Nya. Rantingnya adalah rasa takut kepada-Nya. Akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Allah swt. Air penyiramnya adalah dzikir kepada-Nya. Jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah rasa cinta (mahabbah) kepada Allah. Allah swt. berfirman, “Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hadid: 4). Artinya, Allah swt. mengawasi dan menyaksikan perbuatan makhluk kapan saja dan di mana saja kamu berada, pada waktu malam maupun siang, di darat ataupun di laut, di rumah, di sekolah, di manapun kita menarik nafas. Dia mengetahui apa yang disembunyikan dan difikirkan.
Adanya nilai takwa dalam diri manusia antara lain ditunjukan dengan mampu menahan dan menundukkan hawa nafsu, sehingga nantinya akan mendapatkan kebahagiaan, seperti firman Allah swt. yang artinya,“Dan adapun orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 40-41). Hawa nafsu itu bisa muncul dari hati yang sakit. Penyakit hati adalah penyakit yang menimpa manusia cukup kronis. Penyakit hati itu seperti iri, dengki, tidak senang melihat kebahagiaan orang lain, atau membicarakan aib orang lain (ghibah). Penyakit lainnya yang lebih kronis dan tidak akan diampuni oleh Allah swt. yaitu syirik kepada Allah swt. Penyakit-penyakit ini yang akan menyebabkan dosa. Untuk itu hendaknya kita selalu berlindung kepada Allah swt. dari penyakit itu semua. Hendaknya mulai dari sekarang kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah swt. agar selalu hidup dalam lingkungan yang terasa tentram, harmonis, dam bahagia.

Prolog
Kultum umumnya identik dengan sebuah ceramah yang ditujukan bagi berbagai kalangan (atau pada tempat tertentu bisa jadi mayoritas dapat mewakili komunitas tertentu, misalnya mahasiswa atau pegawai), dengan jumlah banyak, dimana hal ini biasanya dilakukan di masjid – masjid yang dilakukan pada saat bulan Ramadhan.

Lebih luasnya terkadang juga dilakukan tidak pada saat Bulan Ramadhan saja, tetapi pada bulan lainnya dan dapat juga dilakukan di luar masjid. Ceramah sendiri merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan berbicara dalam rangka mempengaruhi manusia untuk diarahkan pada keinginan kita, tentunya dalam hal ini kepada petunjuk Islam. Kultum juga sampai saat ini masih identik dengan pembatasan waktu berkisar antara 10 sampai 15 menit (walaupun kultum sendiri singkatan dari kuliah tujuh menit, tetapi pada beberapa tempat bergeser menjadi kuliah terserah antum) dan biasanya dilakukan searah (bukan dialog). Kita sebagai seorang muslim seharusnya bersemangat dan berusaha terlibat dalam kegiatan ceramah seperti ini, karena ini merupakan sarana efektif dalam rangka mengingatkan umat dari kelalaian dan menyeru mereka pada kebaikan. Hal ini merupakan ciri – ciri yang seharusnya ada pada masyarakat Islam yang merupakan umat yang terbaik, sebagaimana Allah telah berfirman :

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah." (ali Imran : 110)

Para pendahulu kita dari kalangan orang – orang shalih telah mewariskan sejarah yang cukup mencengangkan setiap kita yang mencoba menyusuri jejaknya, sehingga karena pengaruh mereka yang cukup kuat dalam beramar ma'ruf nahyu munkar inilah mereka berhasil menguasai 2/3 dari bagian bumi ini. Namun.., ketika mereka kaum muslimin dan ulamanya mencoba meninggalkan kewajiban ini maka telah dapat kita saksikan satu persatu kekuasaan Islam jatuh ke tangan – tangan musuh Islam, sebagaimana dapat kita saksikan waktu kejatuhannya negeri Andalusia (lihat sejarah Ibnu Hazm al andalusi) Syaikh Ibnu baz rahimahullah pernah memfatwakan bahwanya hukum berdakwah (diantaranya dengan berceramah –peny) adalah fardlu 'ain, karena saat ini sangat sedikit sekali orang – orang yang mau memberikan ceramah dan berdakwah (Wujubud Da'wah ilallah).
Syaikh Utsaimin pernah menjelaskan bahwasanya cara berdakwah dengan menggunakan lisan merupakan cara yang paling efektif dalam berdakwah, karena dengannya kita dapat mengetahui secara langsung respon daripada objek dakwah kita (lihat Fatwa – Fatwa Syaikh Utsaimin, alQowam). Jauh sebelum para ulama berceramah dengan tulisan biasanya mereka memperbanyak ceramah dengan lisan. Sebagaimana al – Qur'an juga diturunkan dengan media suara sebelum dibukukan atau juga hadist – hadist dan atsar para shahabat. Dalam haditsnya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallam kembali mengingatkan kita akan pentingnya berdakwah dengan lisan, artinya :

"Barangsiapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak mungkin dengan lisan, jika tidak mungkin dengan hati, dan itulah selemah – lemah iman." (HR. Muslim)

Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallam menempatkan berdakwah dengan lisan setelah berdakwah dengan tangan dan termasuk ke dalam keutamaan iman kaum muslimin. Kaidah Umum memberi Nasihat Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para penyeru kebaikan, diantaranya :
• Perintah dan larangannya diberikan secara halus dan lemah lembut sehingga diterima jiwa
• Pemberi nasihat mengetahui yang halal dan haram, sehingga seruannya bermanfaat dan tidak memberi dampak negatif karena kekurang tahuannya.
• Penyeru kebaikan wajib melaksanakan apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa yang dilarangnya, agar faidahnya dapat bernmanfaat sempurna.
• Setiap pemberi nasihat hendaknya berani, tidak takut pada celaan dan hinaan orang, tapi hendaknya takut pada Allah subhanahu wata'ala semata serta sabar menhadapi cobaan yang menimpanya.

Tahapan dan Kunci Sukses

Kultum sebagai sarana komunikasi memiliki tiga unsur penting, yaitu: Pengirim (penceramah), Penerima (objek da'wah), Pesan (nasihat). Tahapan yang akan dilalui hendaknya mengingat 3 (tiga) unsur tersebut, diantaranya: Motivasi dari penceramah hendaknya mempunyai tujuan yang jelas disertai keyakinan kuat bahwa tujuan tersebut sangat penting. Kemudian hati penceramah mengungkapkannya sebelum lidah dan seluruh potensi dirinya mengutarakannya. Menentukan bentuk pesan (tema dan bentuk penyampaian).

Tema pesan disamping harus memperhatikan prioritas dalam agama, menggunakan dalil yang shohih juga diharapkan up to date. Tema yang up to date menuntut pengetahuan pembicara dalam dunia kontemporer atau minimal mengetahui kondisi realita umat, misalnya : Tema kesabaran menghadapi musibah banjir ketika banyak daerah kebanjiran, tetapi hal ini dapat dikaitkan dengan tauhid ketika umat justeru banyak meminta pertolongan pada sesembahan selain Allah Ta'ala (hal ini perlu untuk mengejar prioritas dalam berda'wah). Tema lain misalnya tentang pornografi yang saat ini sedang aktif dilawan pemerintah, tetapi dikaitkan dengan aqidah ahlussunnah waljama'ah, dimana salah satu bentuk ketaatan ahlussunnah waljama'ah adalah menta'ati pemerintah.

Bentuk penyampaian akan berbeda – beda sesuai dengan penerima dan lingkungan dihadapan kita. Apabila objek kita kalangan pemuda, tentu akan berbeda penyampaian dengan objek kalangan orang tua. Menghadapi para wanita akan berbeda dengan jama'ah laki – laki atau jama'ah yang majemuk. Berbeda pula antara kalangan mahasiswa dan kaum awam di perkampungan. Hal ini kadang menuntut keterampilan penceramah mempunyai wawasan dalam bidang yang sesuai dengan kondisi mad'u. Misalnya seorang penceramah terlebih dulu membaca sekilas (tidak perlu mendalam) tentang materi tentang dunia IT apabila mad'u (objek dakwah) yang dihadapi adalah kalangan insinyur. Merealisir bentuk pesan ke dalam praktek.

Praktek pertama adalah membuat kata pembuka yang menarik, maksudnya menarik perhatian dari jama'ah atau memberikan rangsangan dengan gerakan, atau kalimat lembut, atau kata atau teriakan / panggilan ataupun tujuan yang memang disukai oleh jama'ah. Kata pembuka disini maksudnya dilakukan setelah penceramah memberikan sambutan dengan dengan salam, pujian dan sholawat serta salam kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam (hal ini semua jarang sekali ditinggalakan para ulama ketika mereka memberikan ceramah/nasihat, kecuali pada kondisi yang memang tidak memungkinkan. Misalnya nasihat – nasihat pendek). Beberapa contoh kata pembuka: Ya ayyuhannas, wahai pemuda, jama'ah sekalian yang kami hormati / cintai, dst.

Praktek kedua kemudian menyambung kata pembuka dengan pesan – pesan yang menarik bagi jama'ah. Hal ini menuntut latihan secara terus – menerus, baik sendiri ataupun secara kelompok. Ada banyak teori praktek tentang hal ini, namun perlu diingat bahwa tujuan daripada penyampaian pesan ini adalah agar pesan kita dapat diterima dan dipahami oleh objek da'wah, sehingga sebaik – baik teori praktek adalah dengan praktek itu sendiri. Learning by doing! Kesuksesan besar dalam menyampaikan pesan secara umum atau mengisi kultum secara khusus adalah tidak lebih akan menggunakan sarana – sarana berikut ini: bahasa, Intonasi suara, rona wajah, gerakan
tubuh, kemudian sarana – sarana eksternal.

Ada yang perlu diulang disini sebelum melangkah kepada sarana – sarana diatas, yaitu sebuah bab dalam shahih bukhari tentang bab al – 'Ilmu Qobla Qoul wal 'amal (Bab berilmu sebelum berkata dan beramal). Hal ini berarti berkata dan berbuat dalam Islam adalah setelah kita belajar, namun kalau kita balik maka faktor kesuksesan setelah belajar adalah berkata dan berbuat. Bukan begitu?

Sarana Pertama Bahasa. Dilakukan dengan memilih kata – kata yang fasih dan melakukan pembicaraan yang jelas, sebagaimana al – Qur'an telah menyihir hati orang – orang Arab. Nabi shallallaahu'alaihi wasallam berkata artinya:

"sesungguhnya diantara penjelasan itu ada yang menyihir." (inna minal bayani lasihran).

Setiap kita sudah seharusnya banyak menghafal al – Qur'an dan hadits Nabi shallaahu 'alaihi wasalam untuk mendapatkan kefasihan dalam berceramah. Ada mungkin juga kita temui dalam keseharian beberapa ungkapan bagus yang perlu kita hafal, sehingga akan menambah perbendaharaan kalimat kita. Kita akan lebih sempurna apabila juga mengetahui beberapa terminologi – terminologi topik yang sedang dibicarakan dari para ahlinya (spesialis), sehingga orang akan percaya dan mudah menerima ceramah anda. Hal yang tidak kalah penting adalah memilih format bahasa yang sesuai dengan waktu yang diberikan. Tidak boleh terlalu singkat dan tidak lengkap, tetapi tidak terlalu panjang yang membosankan. Ketika kita berada pada tempat komunitas tertentu, hendaknya juga banyak mengutip dari tokoh – tokoh yang bisa diterima oleh komunitas tersebut. Ketahuilah setiap tempat mempunyai pembicaraan sendiri dan setiap kondisi mempunyai sarana yang berbeda dengan sarana untuk kondisi yang lain.

Sarana Kedua Intonasi Suara dan Bahasa Tubuh. Sarana ini merupakan sarana terpenting dalam penyampaian ceramah. Sejumlah penelitian di Inggris pada tahun 1970 M mengungkapkan bahwa pengaruh pembicaraan bagi orang lain dipengaruhi oleh kalimat sebesar 7 %, intonasi suara mempunyai pengaruh sebesar 38 %, dan bahasa tubuh lainnya (mata, wajah, tangan dan tubuh), mempunyai pengaruh sebesar 55 %. Ada beberapa catatan yang harus kita hindari tentang bahasa tubuh ketika kita menjadi penceramah, yang umumnya dilakukan tanpa sadar, misalnya: menggaruk – garuk kepala, memainkan benda – benda terdekat, menggoyang – goyang kaki, mata jelalatan dan sebagainya. Umumnya penceramah sukses mengarahkan pandangan mereka ke jama'ah, bersikap tenang dan tidak grogi, menggerakkan tangan mereka sesuai tema yang sedang dibahas, membuat mimik wajah yang semuanya mengarah pada upaya mengarahkan jama'ah pada upaya mempengaruhi mereka agar sesuai dengan tujuan materi.

Langkah Awal Pengembangan diri!
• Mendengar dan memperhatikan ceramah orang – orang terkenal, kemudian menirunya dan selanjutnya mencari cara khusus bagi kita setelah itu
• Meminta salah seorang disekitar kita untuk merekam kultum kita tanpa sepengetahuan kita, kemudian dengarkan kultum tersebut dan kritiklah gaya bicara kita serta meinta orang lain meluruskannya
• Setelah kita beberapa kali naik mimbar, tulislah catatan – catatan tentang pembicaraan tersebut dan tinggalkan catatan tersebut di ceramah kita di masa yang akan datang.
Disarikan dari: Barometer Muslim Manajemen Hidup Sukses, Daru Falah Agar Nasihat dapat diterima, Pustaka Ibnu Katsir Dan beberapa buku lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar